h1

RIWAYAT HIDUP SYEKH HASYIM ASY’ARI.

Mei 12, 2011

OLEH : ISTIQOMAHUKTY

Syekh hasyim asy’ari selain sebagai pendiri pondok pesantren tebu ireng dan jam’iyah nahdhotul ‘ulama’, dikenal pula sebagai sosok kiyai yang memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa dengan berbagai disiplin. Berbagai kitab telah beliau tulis dengan berbagai aspek kehidupan sebagai bahasannya.

Berbagai kitab karya beliau, mengupas tentang aspek kehidupan bermasyarakat yang semakin hari, cenderung semakin rusak dengan berbagai hal yang menyertainya. Keprihatinan beliau, secara tersirat, diungkapkan secara halus dalam berbagai kitab dalam aspek kebahasaan yang berbeda-beda. Didalam kitab tanbihat alwajibat, beliau dengan tegas mengungkapkan tentang keprihatinan beliau terhadap mauled yang disertai perbuatan munkar, yang saat ini banyak dilakukan. Pandangan terhadap bid’ah, beliau memberikan ulasan secara gambling didalam kitab risalah ahl as-sunah wa al-jama’ah.[1]

Seperti lazimnya anak seorang kiai di masa itu, Hasyim tak puas hanya dengan belajar kepada ayahnya sendiri. Didorong oleh tingginya cita-cita, maka setelah cukup memiliki bekal, hasyim bermaksud merantau untuk menambah pengetahuan dan meluaskan wawasan. Ketika usianya 15 tahun, diiringi restu ayah ibu, hasyim berangkat untuk menuntutilmu yang lebih mendalam.

Mula-mula, remaja ini berangkat ke pondok pesantren wonokoyo pasuruan. Lalu pindah menuju pondok pesantren langitan tuban. Selanjutnya, Hasyim menimba ilmu di pondok pesantren tenggilis Surabaya. Mendengar bahwa di bangkalan madura ada seorang kiai besar bernama kiai Muhammad Kholil yang terkenal sebagai waliyyullah, Hasyim pun tertarik dan berangkat menuju pondok pesantren Demangan Bangkalan. Hasyim tak lama belajar kepada kiai khalil. Karena ilmunya sudah dianggap cukup, maka Kiai khalil meminta agar Hasyim segera pulang dan menularkan ilmunya kepada orang yang membutuhkannya. Namun Hasyim tak langsung pulang. Keinginannya untuk menimba ilmu, mendorongnya untuk berguru kepada berbagai kiai. Hinga beliau berangkat ke tanah suci dan berguru kepada banyak ulama’ besar. Selanjutnya, hasyim menetap di keras sambil membantu mengajar dipondok pesantren yang didirikan sang ayah. Sejak saat itulah, Hasyim mulai dikenal sebagai anak muda yang alim dan sapaan kiai Hasyim pun melekat pada diri beliau.[2]

K.H. Hasyim Asy’ari menikah tujuh kali dalam semasa hidupnya; semua istrinya adalah anak kiai. Denga demikian, dia terus memelihara hubungan antar berbagai lembaga pesantren.[3]

KARYA KIAI HASYIM ASYARI.

Tidak banyak para ulama’ dari kalangan tradisional yang menuls buku. Akan tetapi tidak demikian dengan K.H. Hasyim Asy’ari, tidak kurang dari sepuluh kitab yang disusunnya antara lain:

  1. Adab Al-Alimah wa Al-muta’allim fima Yahtaj ilah al-Muta’allim fi Ahuwal Ta’allum wa Ma yataqaff al-mu’allim fa maqamat Ta’lim.
  2. Ziyadat Ta’liqat, radda fiha Madhumat al-Syaikh ‘Abd Allah bin yasin al-fasurani Allati Bihujubiha ‘Ala Ahl jam’iyah Nahdlatul ‘ulama
  3. Altanbihat al-Wajibat liman Yashna al-Maulid al-Munkar.

PEMIKIRAN KIAI HASYIM ASYARI.

Sebagai ulama’ besar, Kiai Hasyim dikenal memliki pemikiran brilian yang meliputi banyak bidang, dari masalah agama, pendidikan. Sosial hinnga politik. Akan tetapi yang kami bahas kali ini adalah pemikiran beliau meliputi pendidikan.[4]

Salah satu karya monumental K.H. Hasyim Asyari yang berbicara tentang pendidikan adalah kitab adab al-Alim Wa al-Muta’allim Fima Yahtaj Ilah al-Muta’allim Fi Ahuwal Ta’alum Wa Ma Yataqaff al-Mu’allim Fi Maqamat Ta’limih yang tercetak pertama kali pada 1415 H. Sebagai umumnya kitab kuning, pembahasan terhadap masalah pendidikan lebih ditekankan pada masalah pendidikan etika. Mesti demikian tidak menafikan keahliannya beberapa aspek pendidikan hadis ikut pila mewarnai isi kitab tersebut. Sebagai bukti adalah dikemukakannya beberapa hadits sebagai dasar dari penjelesannya, disamping beberapa ayat al-qur’an dan pendapat para ulama’.[5]

Berbeda opini dengan masyarakat awam di jawa yang menganggap kaum wanita sekedar konco wingking dan tak memerlukan pendidikan, beliau justru memandang pendidikan bagi mereka amat penting. Sebab, merekalah yang oleh Nabi disebut sebagai ‘imad albilad (tiang negara) yang mesti dilibatkan secara aktif dalam mempersiapkan generasi penerus. Pemikiran yang beliau lontarkan di forum muktamar NU ini, akhirnya disepakati mayiritas ulama’. Ketika keputusan iti digugat oleh seoranh kiai, beliau menjawab dengan argument yang amat rasional disertai fakta histories yang dapat dipertanggung jawabkan. Hal itu dapat dibaca dalam karya beliau yang berjudul ziyadah ta’liqat. Sejak saat itu, muncul sebuah pondok pesantren mambaul ma’arif denanyar jombang yang dirintis oleh kiai Bisri Syansuri.[6]

Kiai Hasyim Asyari memulai tulisannya dengan sebuah pendahuluan yang menjadi pengantar bagi pembahasan selanjutnya. Kitab itu terdiri delapan bab, yaitu: Keutamaan ilmu dan ilmuwan serta keutamaan belajar mengajar; etika yang harus diperhatikan dalam belajar mengajar; etika seorang murid terhadap guru; etika murid terhadap pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomani bersama guru; etika yang harus dipedomani seorang guru; etika guru ketika dan akan mengajar; etika guru terhadap murid-muridnya; dan etika terhadap buku; alat untuk memperoleh pelajaran dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Dari delapan bab tersebut dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu: signifikansi pendidikan, tugas dan tanggung jawab seorang murid, dan tugas dan tanggung jawab seorang guru.

  1. Signifikansi pendidikan,

Tentang dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu adalah: pertama bagi murid hendaknya berniat suci menuntut ilmu.

  1. Tugas dan tanggung jawab murid.
    1. Etika yang harus diperhatikan dalam menuntut belajar.

Dalam hal ini terlihat, bahwa ia lebih menekankan pada pendidikan rohani atau pendidikan jiwa. Mesti demikian pendidikan jasmani tetap diperhatikan, khususnya masalah waktu, mengatur makan, dan minum.

    1. Etika seorang murid terhadap guru.

Dalam pembahasan ini hendaknya murid menyimak atau mendengarkan apa yang di sampaikan guru; memiliki guru yang wira’i (berhati-hati) disamping professional; mengikuti jejak-jejak guru; memuliakan guru; memperhatikan apa yang menjadi hak guru; barsabar atas kekerasan guru.

    1. Etika murid terhadap pelajaran

Murid dalam menuntut ilmu hendaknya: memeperhatikan ilmu yang bersifat fardhu ‘ain, dan ilmu\ilmu yang mendukung ilmu fardhu ‘ain, berhati-hati mempelajari ikhtilaf para ulama’, menyetorkan dan mendiskusikan hasil belajar kepada orang yang dipercaya; senantiasa menyimak dan menganalisa ilmu.

  1. Etika dan tanggung jawab guru.
    1. Etika dan tanggung jawab guru.

Yang terpenting dalam stetma ini adalah seorang guru haruslah membiasakan diri untuk menulis, mengarang dan meringkas.untuk mengarang dan meringkas mungkin masih jarang dijumpai. Ini pulalah yang dapat menjadikan faktor mengapa sulit dijumpai tulisan-tulisan berupa karya tulis ilmiah.

    1. Etika guru ketika mengajar.

Ketuka mengajar hendaknya guru: mensucikan diri dari hadats dan kotoran,; berpakaian yang sopan dan dan rapi serta berbau wangi; berniat beribadah; sampaikan hal-hal yang diperintahkan oleh allah; membiasakan untuka membaca; memberin salam ketika masuk kelas.

    1. Etika guru bersama murid.

Etika yang harus dimiliki oleh guru dan juga murid adalah: berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syriat islam; menghindari ketika ikhlasan mengejar keduniawian; selalu melakukan intropeksi diri; mempergunakan metode yang mudah; membangkitka antusiasa dan motivasi peserta didik; memberi latihan yang bersifat membantu; tidak selalu memunculkan salah seorang peserta didik dan menafikan yang lain.

  1. Etika terhadap buku, Alat pelajaran dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Etika yang ditawarkan dalam hal ini adalah: menganjurkan dan mengusahakan agar memiloki buku pelajaran yang diajarkan; merelakan, mengijinkan bila ada kawan meminjam buku; sebaliknya bagi yang meminjam harus menjaga barang pinjaman tersebut; letakkan buku pelajaran pad atempat yang layak, terhormat; memeriksa terlebih dahulu ketuka membeli buku;  bila menyalin buku syari’ah hendaknya bersuci dan membaca basmalah terlebih dahulu; sedangkan bila yang disalin ilmu retorika atau semacamnya maka mulailah denga hamdalah dan shalwat nabi.[7]

 

 

KOMENTAR KRITIS/PEMBANDING.

MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMIKIRA SOEKARNO.

Pendidikan islam juga menjadi salah satu perhatian soekarno selain Soekarno menjadi tokoh nasionalis. Menurutnya, pendidikan islam merupakan arena untuk mengasah akal, mempertajam akal, dan mengembangkan intelektual.

Yang menjadi titik tekan untuk membentuk manusia-manusia masa depan yang berjiwa tauhid dan memiliki keimanan adalah: “merintis budaya” seseorang; sesuatu yang bersifat batiniah. Soekarno menyebutkan ini sebagai mental investment yang baginya merupakan syarat mutlak dan harus dipenuhu oleh bangsa yang hendak membangun.[8]

Dari sini kita telah dapat membandingkan pemikiran K.H. Hasyim Asy’ri dan Soekarno dalam hal pendidikan. Pemikiran antara keduanya tidak jauh beda. Sama-sama mengagungkan pendidikan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah dalam mendidik para sahabat. mereka menafikan adanya paham kolot jawa yang menyebutkan bahwa seorang wanita tak patut untuk mendapatkan pendidikan seperti halnya laki-laki. Wanita adalah sumber kebangkitan bangsa begitu soekarno berkata. Hasyi Asy’ripun mendapat banyak dukungan dari para ulama’ ketika melontarkan perihal pendidikan bagi seorang perempuan. Soekarnopun melontarkan bahwa hal yang bisa mendukung belajar adalah dengan membaca tak terkecuali dengan Hasyim ‘Asyari. Seperti ajaran malaikat jibril kepada nabi Muhammad ketika mendapat wahyu pertama kali. Yaitu “iqra’”

REFERENSI

Syamsul Kurniawan.2009.Pendidikan Dimata Soekarno.Yogyakarta:Ar-ruzz Media.

Drs.Lathiful Khuluq.2009.Fajar Kebangkitan Ulama Biografi K.H. Hasyim Asyari.Yogyakarta:LKIS

H. MA. Saifuddin Zuhri.Wejangan Hadratus Syaikh Mbah Hasyim Asyari.Tebuireng Jombang Dan Mojokerto:Pustaka Warisan Islam Dan Achmady Institute.

H.Ishom Hadzik.2007.K.H. Hasyim Asyari Figur Ulama Dan Pejuang Sejati.Jombang Dan Mojokerto: Pustaka Warisan Dan Achmdy Institute.

Prof.Dr.H Ramayulis.Dr.H. Samsul Nizwar MA.2005.Ensiklopedi Tokoh Pendidikan: Quantum Teachimg.


[1] Saifuddin, Zuhri, Wejangan Hadratus Syaikh Mbah Hasyim Asy’ari,(Jombang: Ponpes Tebu Ireng, 2007),

5

[2] Ishom Hadzik, K.H. Hasyim Asy’ari,(Jombang: Pustaka Warisan Islam Dan Achmady Institute,2007), 7

[3] Lihat Zamkhsyari Dhofir, Kinsip Dan Marriage Among The Javanies Kia, (Indonesia, No. 29:1980),

47-56

[4] Ishom Hadzik, K.H. Hasyim Asy’ari,(Pustaka Warisan Islam Dan Achmady Institute), 33

[5] Ramayulis, Syamsul, EnsiklopediTokoh Pendidikan, (Quantum Teaching), 218

[6] Ishom Hadzik, K.H. Hasyim ‘Asyari (Pustaka Warisan Islam Dan Achmady Institute:2007), 34

[7] Ramayulis, Samsul Nizwar, Ensklopedi tokoh Pendidikan Islam, (Quantuo Teaching), 218-230

[8] Achmad Assegaf, Pendidikan Dimata Soekarno, (Jogjakarta, Ar-ruzz Media: 2009),119

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: