h1

MENGUAK SESATNYA AHMADIYAH

Mei 12, 2011

Posted on April 20, 2008 by assajjad

Sejarah Munculnya Aliran Ahmadiyah

Aliran ini sekarang kembali banyak diberitakan terkait keluarnya surat rekomendasi dari badan PAKEM nasional, yang merekomendasikan kepada pemerintah untuk membubarkan aliran ini. Karena dinilai sudah melanggar 12 kesepakatan bersama, yang salah satunya adalah melarang aliran Ahmadiyah melakukan aktivitasnya di depan umum. Meskipun aliran ini memang terbukti sesat, namun sulit membubarkannya, karena di backup oleh Negara-negara kuat, salah satunya adalah Inggris. Dan bagi orang awam akan cukup sulit membedakan ajaran mereka dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Karena di awal merekrut anggota mereka akan mengatakan Nabi Muhammad juga nabi mereka, dan syahadatnya juga sama. Hanya saja mereka mengatakan/menafsirkan Khatamannabiyyin sebagai nabi termulia, bukan penutup para Nabi dan Rasul.

Sejarah Ahmadiyah tidak lepas dari pendirinya yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Seorang pengikut ahmadiyah yang kemudian menjadi khalifah II, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menulis riwayat hidup Mirza Ghulam Ahmad. Berikut petikannya:

“Pendiri Jemaat Ahmadiyah bernama Hazrat MIrza Ghulam Ahmad. Nama beliau yang asli hanyalah Ghulam Ahmad. Mirza melambangkan keturunan Moghul (Kerajaan Islam yang pernah ada di India). Kebisaannya adalah suka menggunakan nama Ahmad bagi nama beliau secara ringkas. Maka, waktu menerima bai’at dari orang-orang, beliau hanya memakai nama ahmad. Dalam ilham-ilham, Allah Ta’ala sering memanggil beliau dengan nama Ahmad juga. Hazrat Ahmad lahir pada tanggal 13 februari 1835 M, atau 14 Syawal 1230H, hari jum’at pada waktu sholat subuh, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar, saat ia lahir, beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yang tidak berapa lama kemudian meninggal. Demikianlah sempurna sudah kabar gaib yang tertera di dalam kitab-kitab agama Islam bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar. Qadian terletak 57km sebelah timur kota Lahore, dan 24km kota Amritsar di propinsi Punjab India”.

Lebih jauh perkembangan pergerakan ini ditulis: “Pergerakan jamaah Ahmadiyah dalam islam adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang lingkup internasional yang memiliki cabang di 174 negara tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia, dan Eropa. Saat ini jumlah anggotanya di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang, dan angkanya terus bertambah dari hari ke hari. Jemaah ini adalah golongan islam yang paling dinamis dalam sejarah era modern. Jamaah ahmadiyah didirikan tahun 1889 oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ( 1835-1908 ) di qadian, suatu desa didaerah Punjab, India. Beliau mendakwahkan diri sebagai pembaharu (mujadid) yang diharapkan dating di akhir zaman dan beliau adalah seseorang yang ditunggu kedatangannya oleh semua masyarakat beragama (Mahdi dan Al-Masih). Beliau memulai pergerakan ini sebagai perwujudan dari ajaran dan pesan Islam yang sarat dengan kebajikan, perdamaian, persaudaraan, universal dan tunduk patuh pada kehendakNya dalam kemurnian yang sejati. Hazrat Ahmad menyatakan bahwa Islam sebagai agama bagi umat manusia:”Agama orang-orang yang berada di jalan yang lurus”.

Setelah wafatnya pendiri jamaah Ahmadiyah, gerakan ini dipimpin oleh para khalifah:

Khalifah Masih I : Hazrat Maulvi Nuruddin (1908-1914)

Khalifah Masih II : Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (1914-1965)

Khalifah Masih III : Hazrat Hafiz Nasir Ahmad (1965-1983)

Khalifah Masih IV : Mirza Tahir Ahmad (1983-2003)

Khalifah Masih V : Hazrat Mirza Masroor Ahmad (2003-sekarang).

Kenabian Mirza Ghulam Ahmad

Para pendakwah Ahmadiyah sering mengelak dan berkilah dari konsep kenabian Mirza. Sebab, jika diawal mereka terang-terangan mengakui kenabian Mirza, maka akan mudah lawan-lawan Ahmadiyah menyerangnya dan mengatakannya sesat, diluar Islam, maka aliran ini akan sulit mendapatkan simpati dan pengikut.

Berikut beberapa teks dari buku-buku yang dikarang sendiri oleh Mirza atau pengikut aliran ini, yang menunjukan bahwa Mirza Ghulam Ahmad nabi ataukah manusia biasa:

Dari terjemahan buku Ahmadiyah yang berjudul (The Ahmadiyya Movement in Islam inc.) karangan Louis J. Hamman dari Gettysburg College, terjemahannya direstui oleh Syekh Mubarrak Ahmad, tertulis sebagai berikut: “Bagaimanapun sampai umur 41 tahun (1876) Hazrat Ahmad mulai menerima banyak wahyu yang akan membawanya pada keyakinan bahwa didalam pribadinya telah genap datangnya Al-Mahdi. “Setelahnya”, sebagaimana kata Zafrullah Khan, “telah diwahyukan kepadanya bahwa ia juga adalah Al-Masih yang dijanjikan dan benar-benar seorang nabi yang dating seperti yang telah dikabarkan dalam agama-agama utama di dunia “. Ia adalah “juara yang berasal dari Tuhan dengan jubah pakaian semua para Nabi”.

Dalam buku yang juga dikeluarkan oleh jamaah Ahmadiyah berjudul “Perjalanan Mirza Ghulam Ahmad” termuat sebagai berikut:

– Tahun 1876 Hazrat Ahmad berusia kurang lebih 40 tahun ketika ayah beliau sakit, dan penyakitnya tidaklah begitu berbahaya. Tetapi Allah menurunkan ilham ini kepada beliau: “Persumpahan demi langit yang merupakan sumber takdir, dan demi peristiwa yang akan terjadi setelah tenggelamnya matahari pada hari ini”.

Tiba-tiba saya rasakan seperti tidur dan menerima ilham yang kedua: “Apakah Allah tidak cukup bagi HambaNya?”

– Di dalam buku itu, Hazrat Ahmad juga mencantumkan beberapa ilham yang beliau terima, sebagian diantaranya kami paparkan disini supaya terlihat bukti-bukti kebenarannya: “Seorang nabi telah datang ke dunia, namun dunia tidak menerimanya”.

“Akan datang kepadamu hadiah-hadiah dari tempat-tempat yang jauh dan orang-orang banyak akan datang dari tempat-tempat yang jauh”.

Pendakwaan Diri sebagai Masih Mau’ud

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–> “Pada tahun 1891 telah terjadi suatu perubahan yang amat besar, yakni Hazrat Ahmad diberi ilham oleh Allah bahwasannya Nabi Isa yang ditunggu-tunggu kedatangannya kedua kali itu telah wafat dan tidak akan datang lagi kedunia ini. Kedatangan nabi Isa kedua adalah orang lain yang akan datang dengan sifat dan cara seperti nabi Isa, yaitu Hazrat Ahmad sendiri orangnya.

Dalam buku yang dikeluarkan oleh jamaah Ahmadiyah yang berjudul: Analisa Tentang Khataman Nabiyyin, dinukil beberapa perkataan Mirza: “Kami beriman bahwa nabi Muhammad berpangkat Khataman dan sesudah beliau tidak akan ada seorangpun terkecuali yang dipelihara oleh faidh dan berkatnya dan sudah dinyatakan oleh janjinya”.

“Sesungguhnya nabi kita(Muhammad) adalah khatamul anbiyaa, sesudah beliau tidak ada seorangpun nabi, terkecuali orang yang diterangi oleh nur beliau dan yang penzahirannya adalah bayangan dari penzahiran beliau”.

Lalu penulis buku itu menyimpulkan: “Yang menjadi perbedaan antara kami jamaah Ahmadiyah dengan golongan Islam lain hanyalah satu, kami percaya bahwa nabi yang dijanjikan sudah datang, yakni Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad”.

Dalam buku Ajaranku yang ditulis oleh Mirza sendiri termuat: “Aku sekali-kali tidak mengingkari keluhuran Hazrah Isa, sungguhpun kepadaku Tuhan mengabarkan bahwa Masih Muhammadi berkedudukan lebih tinggi dari Masih Musawi, akan tetapi aku memberi penghormatan yang sangat tinggi terhadap Masih ibnu Maryam, oleh sebab dalam segi kerohanian aku adalah Khatamul Khulafa di dalam Islam, seperti halnya Masih ibnu Maryam adalah Khatamul Khulafa di dalam silsilah Israil. Dalam Syariah Musa, Isa ibnu Maryam adalah Masih Mau’ud, sedangkan di dalam syariah Muhammad SAW akulah Masih Mau’ud. Oleh karena itu aku menghormati beliau sebagai rekanku, dan barang siapa yang mengatakan bahwa aku tidak menghormati beliau, dialah seorang pembuat onar dan seorang pendusta besar”.

Dari beberapa tulisan di atas, jelas dan tidak diragukan lagi bahwa:

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya sebagai nabi dan rasul yang menerima wahyu

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kadang Mirza juga mengaku sebagai Al-Mahdi, kadang Al-Masih dan kadang Al-Mau’ud atau Masih Mau’ud

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Para pengikut aliran ini sepakat bahwa Mirza adalah nabi dan menerima wahyu

Disinilah kesesatan mereka mulai terihat.

Sumber : Buku Menguak Kesesatan Aliran Ahmadiyah, karangan Dr.Ahmad Lutfi Fatullah, MA.(Dosen PascaSarjana untuk mata kuliah Hadits dan ilmu Hadits di UIN Jakarta, UI, IIQ Jakarta, IAIN SGDBandung, Univ.Muhammadiyah, UIN-McGill Canada, Dosen penguji Siswazah Univ. Kebangsaan Malaysia)

Penerbit : Al-Mughni Press.

Tulisan Terkait:

menguak-sesatnya-ahmadiyahbagiikebohongan-tazkirah/

Filed under: Aqidah, ibadah, Kabar berita, Khazanah, Sosok, Uncategorized

« Kemana Hilangnya Rasa Kasih Sayang? Menguak Sesatnya Ahmadiyah(bag.II.Kebohongan Tazkirah) »

Suka

Be the first to like this post.

874 Tanggapan

ressay, on April 21, 2008 at 8:27 am said:

Jadi, kalau menurutku, inilah fungsinya dialektika. kita sebenarnya tidak bisa langsung mengklaim bahwa apa yang ditulis ustadz di atas itu pasti benar. Karena di sana belum ada dialektika antara beliau dengan orang-orang yang menganut kepercayaan Ahmadiyah.

Balas

eko m yusuf, on Agustus 3, 2010 at 5:13 am said:

ngapain bingung2 cari sejarah…. udah, pokoknya klo masih mengakui ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW…. sudah pasti SESAT….. harus di bubarkan, bahkan darahnya halal untuk di musnahkan…

Balas

dJono, on September 3, 2010 at 4:47 am said:

Bedakan NABI & ROSUL… Nabi adalah menerima wahyu dari ALLAH tp tidak didakwahkan u/ umat. Apa mungkin ada Manusia setelah Rasul SAW ?! sangat mungkin..

Haryo Bimo, on September 3, 2010 at 9:58 am said:

emang darah nyamuk mas…maen halal2 aja…sampean umatnya Nabi Muhammad apa umatnya setan?koq suka ngumabr amarah….hehehehe

kozink saputra, on September 8, 2010 at 4:09 am said:

punya ilmu drkula ya mas.demen banget amat darah

Maryanto, on Oktober 11, 2010 at 9:33 am said:

Emang ajaran Nabi Muhammad begitu? Wahai pecinta nabi? Sadar…sadar….jangan kau nodai ajaran islam.

yoyok, on Januari 10, 2011 at 2:15 am said:

Firman Allah swt: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab:40)

Nabi Muhammad saw bersabda: “Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan datang sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku (HR. Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

JIKA ANDA ISLAM ANDA AKAN YAKIN!!!

TIDAK AKAN ADA NABI LAGI SETELAH NABI MUHAMMAD SAW!!!(yang ada hanya kalifah)

DAN MUSLIMIN HANYA AKAN PERCAYA PADA ALLAH SWT dan AL-QUR’ANNYA!!!

SELAIN ITU ANDA BERARTI BUKAN ISLAM!!!

irawan, on Februari 7, 2011 at 7:12 am said:

jangan sok menganggab diri paling benar hingga mengganggab daranya halal ngacalah dirimi dan siapa keluargamu apa kmu itu tidak merasa klo kmu itu lebih busuk dari banggkai dan sampah

fadlan, on Februari 7, 2011 at 5:38 pm said:

ahmadiyah sudah jelas kalian sesat, hanya saja kedurhakaan kalian belum allah tunjukan dengan senyata-nyatanya pasti semua itu pasti ada

allah melaknat kalian semua amiennnnn

abdilah, on Februari 8, 2011 at 8:25 am said:

mari kita sadar bahwa apapun bentuk ketidak sukaan kita pada ajaran apapun yang tidak sesuai iman kita

jangan jadi dasar untuk membunuh

ALLAH YANG MANA MENYURUH UMATNYA MEMBUNUH DENGAN DALIH YANG LAIN SESAT

agust mansyah, on Agustus 10, 2010 at 2:32 am said:

tidak perlu ada dialektika lg. klo merasa awam dlm hal fiqih n tasawwuf lbih baik tdk ush ikut omong. ini mslh ummat lo !!

Balas

arif, on September 14, 2010 at 12:51 pm said:

ahhhhh,anda tuhkan musslimkan,klw anda muslim pasti twu nabi terakhir iya itu nabi MUHAMAD SAW IYAKAN,KITA G USAH BINGU”LAH,DAH JELA” Ahmadiya tuh sesat.itu dah jelas karena mengklem bahwa ada nabi setlah nabi MUHAMAD SAW,JDI G USAH BEGINI BEGITU,NANTI TAMBAH RIBET,DAH TEGAS AJA BAHWA AHMADIYAH ITU S E S A T

Balas

fatma, on November 29, 2010 at 5:48 am said:

khatam dalam bahasa arab berarti stampel atau cap, cap biasanya dipakai untuk mengesahkan sesuatu hal. tidak ada khatam yang berarti terakhir. orang yg telah khatam alquran bukan berarti dia tidak akan membacanya lagi.khatam bisa diartikan sempurna atau mulia. nabi muhammad SAW adalah khataman nabiyin. berarti beliau adalah nabi yg paling sempurna dan beliaulah yg mengesahkan para nabi. bukan nabi penutup atau nabi terkhir. tolong pahami lagi bahasa arab yang baik dan benar

karim, on November 29, 2010 at 8:56 am said:

ambillah pelajaran dari blog tetangga ini:

http://muhammadinsan.wordpress.com/2010/10/20/muhammad-bin-abdillah-shallallahu-%E2%80%98alaihi-wa-sallam-penutup-pintu-kenabian-bag-2/

Kedunghalang, on November 29, 2010 at 5:31 pm said:

بِسْــــمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Dalil-dalil yang ada di blog berikut ini:

http://muhammadinsan.wordpress.com/2010/10/20/muhammad-bin-abdillah-shallallahu-%E2%80%98alaihi-wa-sallam-penutup-pintu-kenabian-bag-2/

Sudah dipatahkan oleh Al Quran yang menegaskan tentang Sunnah Allah (Sunatullah) yang tidak akan ada perubahan dan tidak ada pergantian, mulai sejak dahulu/lampau, sekarang, atau pun yang akan datang, firman Allah Ta’ala:

فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللّٰهِ تَبْدِيْلاً ۚ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللّٰهِ تَحْوِيْلاً‏

”Maka sekali-kali tidak akan engkau dapatkan sesuatu perubahan dalam Sunnatullah; dan tidak pula sekali-kali engkau akan dapatkan sesuatu pergantian dalam Sunnatullah.” (QS Al Fathir 35:44).

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا فِيْهِمْ مُّنْذِرِيْنَ‏ ‏ وَلَـقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ اَكْثَرُ الْاَوَّلِيْنَۙ‏

”Dan, sesungguhnya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang dahulu. Dan sesungguhnya telah Kami utus para Pemberi Peringatan (Mundzirin) di kalangan mereka” (QS Ash-Shafat 37:72-73).

Ayat diatas mengisyaratkan tentang Sunnah Allah bahwa ketika orang-orang dahulu telah sesat, maka Allah senantiasa mengutus seorang Pemberi Peringatan (Mundzir/Nabi). Sunnah Allah ini dari dulu, sekarang hingga yang akan datang tidak ada perubahan, firman-Nya:

سُنَّةَ اللّٰهِ فِىْ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُۚ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلاً‏

“Demikianlah sunnah Allah bertalian dengan orang-orang yang telah lampau, dan engkau sekali-kali tidak akan mendapatkan suatu perubahan dalam sunnah Allah.” (QS Al Ahzab

33:63).

Dengan kata lain, kenabian setelah Rasulullah saw hingga Hari Kiamat masih tetap terbuka.

Love for All, Hatred for None.

Terimakasih.

جَزَاكُمُاللهِ اَحْسَنُ الْجَزَ

وَأَخِرُدَعْوَانَآاَنِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

karim, on Desember 1, 2010 at 8:55 am said:

inilah akhir dari orang yang lemah dalam berdalil sehingga memaksakan ayat-ayat dan hadits-hadits yang tidak berhubungan sama sekali dengan kenabian baru dan pendakwaan mirza agar diterima kaum muslimin. Upaya mengutip ayat-ayat dan hadits-hadits yang tidak berhubungan sama sekali dengan kenabian baru adalah salah satu upaya menipu mata kaum muslimin yang kurang mengerti atau awam akan ajaran agama islam. Kesalahan fatal dengan membenarkan perkataan ulama dan rabitah alam islami sehingga berbalik menikam diri sendiri karena para ulama dan rabitah alam islami yang dianggap berkompeten oleh kedung halang tidak pernah mengakui bahwa Isa yang turun adalah Manusia seperti Isa. Baik ulama dan rabitah alam islami tidak pernah beritikad adanya nabi baru setelah Rasullah SAW. Bahkan Para sahabat , tabi’in dan tabiut tabi’in yang sebaik-baik generasi yang berkompeten tidak pernah mengakui adanya nabi baru setelah Rasulullah SAW. Begitupula Imam-imam hadits tidak pernah beritikad adanya manusia seperti Isa turun akhir zaman.

Hal ini dikuatkan dengan firman Allah:

“Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”(QS.7:158)

Bahkan Allah sendiri yang telah menciptakan orang-orang yang dianggap berkompeten oleh kedung halang telah menjelaskan kepada kita bahwa kita harus mengikuti nabi yang ummi(Rasulullah SAW) bukannya mirza sehingga dengan ayat ini telah membuka tabir terputusnya kenabian. Sehingga pantas jika orang yang durhaka terhadap perintah Allah ini adalah orang-orang yang sesat.

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Masa Kenabian itu berlangsung di tengah-tengah kalian selama yang dikehendaki oleh Allah, kemudian Dia mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa khilafah di atas manhaj kenabian selama yang dikehendaki oleh Allah, kemudian Dia mengangkatnya apabila Allah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa kerajaan yang menggigit selama yang dikehendaki oleh Allah, kemudian Dia mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa kerajaan yang sewenang-wenang selama yang dikehendaki oleh Allah, kemudian Dia mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah di atas manhaj kenabian.” Kemudian beliau diam. [HR. Ahmad IV/273, Al-Baihaqi]

Hadits ini menjelaskan bahwa tidak ada lagi nabi sesudah Rasulullah SAW dan yang ada hanyalah khilafah di atas manhaj kenabian bukan nabi. Jika ada lagi nabi setelah Rasullah SAW tentu sebelum pada kalimat “khilafah diatas manhadj kenabian” terdapat kalimat “Masa Kenabian itu berlangsung di tengah-tengah kalian selama yang dikehendaki oleh Allah” seperti halnya tertulis diawal hadits tersebut “Masa Kenabian itu berlangsung di tengah-tengah kalian selama yang dikehendaki oleh Allah, kemudian Dia mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa khilafah di atas manhaj kenabian selama yang dikehendaki oleh Allah”

Jika khalifah diatas manhaj kenabian berpangkat nabi tentu khulafau rasyidin seperti abu bakar, umar, usman dan ali akan berpangkat nabi namun sayangnya mereka tidak berpangkat nabi. Bahkan khalifah ahmadiyah bisa berpangkat nabi jika khalifah diatas manhaj kenabian itu diartikan berpangkat nabi. Sayangnya Al-Qur’an dan hadits-hadits yg shahih telah menjelaskan tidak adanya lagi nabi setelah Rasulullah SAW. Nyatalah orang-orang yang mengakui adanya nabi baru setelah Rasulullah SAW dan mengimani nabi baru tersebut adalah orang-orang yang sesat. Bahkan para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in yang sebaik-baik generasi tidak pernah sekalipun beritikad adanya Nabi baru setelah Rasulullah SAW. Wajar kalau Rasulullah SAW tidak pernah menyebut generasi mirza adalah generasi terbaik. Umur kenabian mirza yang hanya sampai 7 tahun saja sudah menguatkan bahwa mirza adalah nabi palsu. khususnya jema’at mereka yang mengamalkan hadits maudhu’ untuk membenarkan mirza adalah salah bentuk kesesatan mereka. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa yang mendustakan atas namaku neraka tempatnya.

Wahai kaum muslim janganlah anda percaya kepada pendakwaan-pendakwaan mirza karena wahyu yang diterimanya adalah berasal dari syaitan seperti wahyu dibawah ini:

“I Love You” (tadzkirah 50)

wwwalislam.org/library/books/tadhkirah/?page=50#top

“Roaitunii fiil manaami ‘ainallahi wa tayaqqantu annanii huwa” artinya “Didalam tidur aku bermimpi jadi Allah, dan aku yakin bahwa aku adalah Dia (Allah)…..”.(Tadzkirah hal.152)

wwwalislam.org/library/books/tadhkirah/?page=152&VScroll=0#top

Wahyu-wahyu tersebut sangat bertentangan sekali dengan Al-Qur’an karena Allah berbeda dengan makhluknya (mukhalafatul lil hawaditsi). Wahyu-wahyu yang menyimpang dari Al-Qur’an sudah pasti berasal dari Syaitan. Karena wahyu tersebut berasal dari syaitan maka pengakuan mirza sebagai mahdi dan isa bahkan pendakwaan lainnya secara otomatis bukan dari Allah tetapi dari syaitan yang menyesatkan mirza. Banyak cara yang dilakukan oleh syaitan untuk menyesatkan manusia. Salah satunya memberikan wahyu kepada manusia.

Lihatlah video ini:

Ustad tersebut mungkin berkata ahmadiyah membawa syariat baru mungkin berdasarkan buku-buku ahmadiyah dibawah ini:

Begitupun menurut ilham ilahi beliau as mengumumkan untuk mengadakan suatu tempat kuburan yang istimewa (Bahisyti Makbarah) dimana orang-orang yang akan dikuburkan harus memenuhi syarat-syarat, yakni mengurbankan paling sedikit 1/10 dari harta bendanya dan 1/10 dari penghasilan setiap bulan untuk kepentingan Islam. Beliau a.s menerangkan begini: “bahwa Allah swt telah memberi khabar suka kepada, bahwa dalam tempat kuburan tersebut hanyalah orang-orang ahli surga saja yang akan dikuburkan”.

(Sumber: Riwayat Hidup Hz .Ahmad , Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Hal 64-65, Jemaat Ahmadiyah Cabang Jakarta)

Dalam zaman sekarang, Allah swt telah berfirman bagi orang-orang yang mau beroleh surga hakiki, yaitu hendaknya mereka mengurbankan mulai 1/10 sampai 1/3 dari penghasilan dan harta benda mereka sebagai wasiat.

(Sumber: Tertib Baru Menurut Al-Wasiat, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Hal 10, Jemaat Ahmadiyah 1988)

Bahwa kamu mengehendaki surga, kamu harus menjalankan pengurbanan tersebut, tetapi kalau kamu tidak menghargai surga itu, maka harta benda kamu tidak diiperlukan oleh kami, boleh kamu simpan saja.

(Sumber: Tertib Baru Menurut Al-Wasiat, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Hal 10, Jemaat Ahmadiyah 1988)

Syariat adalah sesuatu yang digariskan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang berhubungan dengan tradisi dan aturan hukum. Yang dinamakan syariat itu bukanlah hanya terbatas pada hal-hal wajib dan yang haram saja, tetapi kebijaksanaan langkah-langkah yang ditempuh oleh para nabi dalam memimpin dan mengatur umat mereka juga dinamakan syariat.

Rasulullah SAW tidak pernah menetapkan ketentuan yang diberlakukan oleh ahmadiyah dalam candah wasiat tersebut. Rasulullah SAW juga tidak pernah memperjualbelikan surga dengan hanya membayar berdasarkan ketentuan tersebut sebesar 1/10. Dari buku-buku ahmadiyah tersebut terungkap bahwa mirza membawa syariat baru. Bagi orang yang berakal, pasti tidak akan mengimani Ghulam Ahmad atas alasan dalil diatas karena surga tidak pernah diperjualkan belikan dan mirza membawa syariat berdasarkan bukti-bukti tersebut. Atas dasar-dasar itulah maka pantaslah mirza disebut sebagai nabi palsu.

Jangan pernah beranggapan bahwa dosa yang anda perbuat ditanggung oleh mirza karena Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa penyeru kepada kebatilan itu menanggung dosa dirinya sendiri dan masih ditambahi dengan dosa-dosa orang yang disesatkannya (tanpa mengurangi dosa mereka), sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”. (QS An-Nahl/ 16: 25).

Ibnu katsir berkata: Penyeru-penyeru (kebatilan) itu menanggung dosa kesesatan diri mereka sendiri dan dosa lainnya, karena apa yang telah mereka sesatkan, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun. Ini dari keadilan Allah Ta’ala. Nabi saw bersabda:

مَنْ دَعَا إلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقِصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Siapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia menanggung dosa dia sendiri (ditambah dosa) seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.

Saudara-saudara seiman, kita tidak pernah mendapat perintah untuk mentaati nabi palsu seperti mirza. Ayat-ayat tentang taat kepada Rasul ataupun Nabi adalah ketaatan hanya kepada Rasul atau Nabi yang benar-benar diutus oleh Allah. Kita tidak berkewajiban untuk mentaati yang bukan utusan dari Allah. Karena Mirza mendapat wahyu dari syaitan. Kita tidak berkewajiban untuk mentaatinya.

Wassalam

Kedunghalang, on Desember 1, 2010 at 6:00 pm said:

بِسْــــمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Rasulullah saw pernah bersabda:

يُوْ شِكُ اَنْيَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَيَبْقَى مِنَ اْلاِ سْلاَمِ اِلاَاسْمُهُ وَلاَمِنَ الْقُرْ آنِ اِلاَرَسْمُهُ مَسَا جِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى عُلَمَا ءُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ اَدِيْمِ الشَّمَاءِ مِنْ عِنْدِهِم تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ وَفِيْهِم تَعُوْدُ

“Akan datang masanya pada manusia bilamana Islam hanya tinggal namanya saja, dan Al Quran tinggal tulisannya saja (tanpa manusia mengerti dan mengamalkan isinya). Masjid-masjid akan ramai dan penuh dengan orang-orang, tetapi kosong dari petunjuk. Ulama-ulama Mereka (Ulama Uhum) akan menjadi wujud yang paling buruk di bawah kolong langit ini, fitnah-fitnah dan kekacauan akan keluar dari mereka dan akan kembali kepada mereka.” (HR Al Baihaqi, Misykaat, hal. 38).

Saya yakin Nabi Muhammad Rasulullah saw bersabda tentang Ulama Uhum itu tertuju kepada Ulama Mereka (termasuk para pendukungnya) yang mengeluarkan fitnah dengan memfatwa bahwa Ahmadiyah di luar Islam, Sesat dan Menyesatkan. Sedangkan Ulama-Ulama Islam yang tidak mendukung bahkan menentang fatwa itu, tidak termasuk ke dalam Ulama Uhum.

Saya yakin Nabi Muhammad Rasulullah saw dan para pengikut beliau saw (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as & para Anggota Jemaat Ahmadiyah) menyampaikan hal itu tidak terdorong oleh hawa nafsu syeitan. Kami hanya mengutip sabda Rasulullah saw itu untuk merespon fatwa tersebut bahwa dan sesungguhnya Ahmadiyah adalah Islam sejati sebagai penggenapan Janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh di antara umat Islam dengan telah dijadikan-Nya seorang Khalifah di bumi (QS An-Nur 24;56) dan dipelihara-Nya Khilafah Rasyidah (Khalifatul Masih) sebagai Amirul Mukminin dan Imam Jemaat Islam Internasional Ahmadiyah yang hingga sekarang masih eksis bahkan dijanjikan-Nya akan terpelihara hingga Hari Kiamat.

Perintah Rasulullah saw untuk bai’at:

فَاِذَارَأَيْتُمُوْهُ فَبَايِعُوْهُ وَلَوْدحَبْوًاَعلَى الثَّلْخِ فَاِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِيُ

“Apabila kamu melihatnya (Imam Mahdi), maka bai’atlah kepadanya walaupun harus merangkak di atas salju, karena beliau adalah Khalifah Allah dan Al Mahdi.” (Sunan Ibnu Majah, Darul Fikr, Jld. II, hal. 1367, Hadits No.4084).

Firman Allah Ta’ala:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِيُطَاعَ بِاِذْنِ اللّٰهِ‌ؕ

“Dan, tidaklah Kami utus seorang rasul/nabi/khalifah/Imam mahdi melainkan supaya ia dita’ati dengan izin Allah;” (QS An-Nisa 4:65)

Umat Islam yang menta’ati Allah Ta’ala dan Rasulullah saw pasti akan berbai’at kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi & Masih Mau’ud) as lewat Khalifatul Masih V atba, karena beliau as telah memberikan mandat-Nya kepada Khalifahnya:

اِنَّالَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَمَايُبَايِعُوْنَ الله َيَدُاللهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ

“Sesungguhnya mereka yang bai’at kepada engkau, sesungguhnya mereka bai’at kepada Allah, Tangan Allah berada diatas tangan mereka.” [Sabz Isytihaar, hal. 24 (Urdu) & Tabligh Risalah, Jilid I, hal.145 (Urdu)].

Bagi mereka yang tidak mau ta’at dan/atau menolak dan/atau durhaka dan/atau mendustakan ayat-ayat atau perintah Allah dan Rasulullah saw, terserah Anda karena Allah berfirman:

وَقُلِ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ‌ فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan, katakanlah, ‘Inilah hak/kebenaran dari Tuhan-mu; maka barangsiapa menghendaki, maka berimanlah, dan barangsiapa menghendaki, maka ingkarlah.” (QS Al Kahf 18:30),

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar sama saja bagi mereka, apakah mereka engkau peringatkan atau tidak engkau peringatkan, mereka tidak akan mau beriman.” (QS Al Baqarah 2:7).

لَاۤ اِكْرَاهَ فِىْ الدِّيْنِ‌ۙ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَىِّ‌ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا‌‌ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ‏

“Tidak ada paksaan dalam agama.‌ Sesungguhnya jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan; dan barangsiapa menolak ajakan orang-orang yang sesat dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada suatu pegangan yang kuat dan tak kenal putus. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah 2:257).

Love for All, Hatred for None.

Terimakasih.

جَزَاكُمُاللهِ اَحْسَنُ الْجَزَ

وَأَخِرُدَعْوَانَآاَنِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

karim, on Desember 2, 2010 at 9:44 am said:

inilah akhir dari orang yang lemah dalam berdalil sehingga memaksakan ayat-ayat dan hadits-hadits yang tidak berhubungan sama sekali dengan kenabian baru dan pendakwaan mirza agar diterima kaum muslimin. Upaya mengutip ayat-ayat dan hadits-hadits yang tidak berhubungan sama sekali dengan kenabian baru adalah salah satu upaya menipu mata kaum muslimin yang kurang mengerti atau awam akan ajaran agama islam. Kesalahan fatal dengan membenarkan perkataan ulama dan rabitah alam islami sehingga berbalik menikam diri sendiri karena para ulama dan rabitah alam islami yang dianggap berkompeten oleh kedung halang tidak pernah mengakui bahwa Isa yang turun adalah Manusia seperti Isa. Baik ulama dan rabitah alam islami tidak pernah beritikad adanya nabi baru setelah Rasullah SAW. Bahkan Para sahabat , tabi’in dan tabiut tabi’in yang sebaik-baik generasi yang berkompeten tidak pernah mengakui adanya nabi baru setelah Rasulullah SAW. Begitupula Imam-imam hadits tidak pernah beritikad adanya manusia seperti Isa turun akhir zaman.

Hal ini dikuatkan dengan firman Allah:

“Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”(QS.7:158)

Bahkan Allah sendiri yang telah menciptakan orang-orang yang dianggap berkompeten oleh kedung halang telah menjelaskan kepada kita bahwa kita harus mengikuti nabi yang ummi(Rasulullah SAW) bukannya mirza sehingga dengan ayat ini telah membuka tabir terputusnya kenabian. Sehingga pantas jika orang yang durhaka terhadap perintah Allah ini adalah orang-orang yang sesat.

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Masa Kenabian itu berlangsung di tengah-tengah kalian selama yang dikehendaki oleh Allah, kemudian Dia mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa khilafah di atas manhaj kenabian selama yang dikehendaki oleh Allah, kemudian Dia mengangkatnya apabila Allah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa kerajaan yang menggigit selama yang dikehendaki oleh Allah, kemudian Dia mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa kerajaan yang sewenang-wenang selama yang dikehendaki oleh Allah, kemudian Dia mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah di atas manhaj kenabian.” Kemudian beliau diam. [HR. Ahmad IV/273, Al-Baihaqi]

Hadits ini menjelaskan bahwa tidak ada lagi nabi sesudah Rasulullah SAW dan yang ada hanyalah khilafah di atas manhaj kenabian bukan nabi. Jika ada lagi nabi setelah Rasullah SAW tentu sebelum pada kalimat “khilafah diatas manhadj kenabian” terdapat kalimat “Masa Kenabian itu berlangsung di tengah-tengah kalian selama yang dikehendaki oleh Allah” seperti halnya tertulis diawal hadits tersebut “Masa Kenabian itu berlangsung di tengah-tengah kalian selama yang dikehendaki oleh Allah, kemudian Dia mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa khilafah di atas manhaj kenabian selama yang dikehendaki oleh Allah”

Jika khalifah diatas manhaj kenabian berpangkat nabi tentu khulafau rasyidin seperti abu bakar, umar, usman dan ali akan berpangkat nabi namun sayangnya mereka tidak berpangkat nabi. Bahkan khalifah ahmadiyah bisa berpangkat nabi jika khalifah diatas manhaj kenabian itu diartikan berpangkat nabi. Sayangnya Al-Qur’an dan hadits-hadits yg shahih telah menjelaskan tidak adanya lagi nabi setelah Rasulullah SAW. Nyatalah orang-orang yang mengakui adanya nabi baru setelah Rasulullah SAW dan mengimani nabi baru tersebut adalah orang-orang yang sesat. Bahkan para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in yang sebaik-baik generasi tidak pernah sekalipun beritikad adanya Nabi baru setelah Rasulullah SAW. Wajar kalau Rasulullah SAW tidak pernah menyebut generasi mirza adalah generasi terbaik. Umur kenabian mirza yang hanya sampai 7 tahun saja sudah menguatkan bahwa mirza adalah nabi palsu. khususnya jema’at mereka yang mengamalkan hadits maudhu’ untuk membenarkan mirza adalah salah bentuk kesesatan mereka. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa yang mendustakan atas namaku neraka tempatnya.

Wahai kaum muslim janganlah anda percaya kepada pendakwaan-pendakwaan mirza karena wahyu yang diterimanya adalah berasal dari syaitan seperti wahyu dibawah ini:

“I Love You” (tadzkirah 50)

wwwalislam.org/library/books/tadhkirah/?page=50#top

“Roaitunii fiil manaami ‘ainallahi wa tayaqqantu annanii huwa” artinya “Didalam tidur aku bermimpi jadi Allah, dan aku yakin bahwa aku adalah Dia (Allah)…..”.(Tadzkirah hal.152)

wwwalislam.org/library/books/tadhkirah/?page=152&VScroll=0#top

Wahyu-wahyu tersebut sangat bertentangan sekali dengan Al-Qur’an karena Allah berbeda dengan makhluknya (mukhalafatul lil hawaditsi). Wahyu-wahyu yang menyimpang dari Al-Qur’an sudah pasti berasal dari Syaitan. Karena wahyu tersebut berasal dari syaitan maka pengakuan mirza sebagai mahdi dan isa bahkan pendakwaan lainnya secara otomatis bukan dari Allah tetapi dari syaitan yang menyesatkan mirza. Banyak cara yang dilakukan oleh syaitan untuk menyesatkan manusia. Salah satunya memberikan wahyu kepada manusia.

Lihatlah video ini:

Ustad tersebut mungkin berkata ahmadiyah membawa syariat baru mungkin berdasarkan buku-buku ahmadiyah dibawah ini:

Begitupun menurut ilham ilahi beliau as mengumumkan untuk mengadakan suatu tempat kuburan yang istimewa (Bahisyti Makbarah) dimana orang-orang yang akan dikuburkan harus memenuhi syarat-syarat, yakni mengurbankan paling sedikit 1/10 dari harta bendanya dan 1/10 dari penghasilan setiap bulan untuk kepentingan Islam. Beliau a.s menerangkan begini: “bahwa Allah swt telah memberi khabar suka kepada, bahwa dalam tempat kuburan tersebut hanyalah orang-orang ahli surga saja yang akan dikuburkan”.

(Sumber: Riwayat Hidup Hz .Ahmad , Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Hal 64-65, Jemaat Ahmadiyah Cabang Jakarta)

Dalam zaman sekarang, Allah swt telah berfirman bagi orang-orang yang mau beroleh surga hakiki, yaitu hendaknya mereka mengurbankan mulai 1/10 sampai 1/3 dari penghasilan dan harta benda mereka sebagai wasiat.

(Sumber: Tertib Baru Menurut Al-Wasiat, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Hal 10, Jemaat Ahmadiyah 1988)

Bahwa kamu mengehendaki surga, kamu harus menjalankan pengurbanan tersebut, tetapi kalau kamu tidak menghargai surga itu, maka harta benda kamu tidak diiperlukan oleh kami, boleh kamu simpan saja.

(Sumber: Tertib Baru Menurut Al-Wasiat, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Hal 10, Jemaat Ahmadiyah 1988)

Syariat adalah sesuatu yang digariskan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang berhubungan dengan tradisi dan aturan hukum. Yang dinamakan syariat itu bukanlah hanya terbatas pada hal-hal wajib dan yang haram saja, tetapi kebijaksanaan langkah-langkah yang ditempuh oleh para nabi dalam memimpin dan mengatur umat mereka juga dinamakan syariat.

Rasulullah SAW tidak pernah menetapkan ketentuan yang diberlakukan oleh ahmadiyah dalam candah wasiat tersebut. Rasulullah SAW juga tidak pernah memperjualbelikan surga dengan hanya membayar berdasarkan ketentuan tersebut sebesar 1/10. Dari buku-buku ahmadiyah tersebut terungkap bahwa mirza membawa syariat baru. Bagi orang yang berakal, pasti tidak akan mengimani Ghulam Ahmad atas alasan dalil diatas karena surga tidak pernah diperjualkan belikan dan mirza membawa syariat berdasarkan bukti-bukti tersebut. Atas dasar-dasar itulah maka pantaslah mirza disebut sebagai nabi palsu.

Jangan pernah beranggapan bahwa dosa yang anda perbuat ditanggung oleh mirza karena Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa penyeru kepada kebatilan itu menanggung dosa dirinya sendiri dan masih ditambahi dengan dosa-dosa orang yang disesatkannya (tanpa mengurangi dosa mereka), sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”. (QS An-Nahl/ 16: 25).

Ibnu katsir berkata: Penyeru-penyeru (kebatilan) itu menanggung dosa kesesatan diri mereka sendiri dan dosa lainnya, karena apa yang telah mereka sesatkan, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun. Ini dari keadilan Allah Ta’ala. Nabi saw bersabda:

مَنْ دَعَا إلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقِصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Siapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia menanggung dosa dia sendiri (ditambah dosa) seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.

Saudara-saudara seiman, kita tidak pernah mendapat perintah untuk mentaati nabi palsu seperti mirza. Ayat-ayat tentang taat kepada Rasul ataupun Nabi adalah ketaatan hanya kepada Rasul atau Nabi yang benar-benar diutus oleh Allah. Kita tidak berkewajiban untuk mentaati yang bukan utusan dari Allah. Karena Mirza mendapat wahyu dari syaitan. Kita tidak berkewajiban untuk mentaatinya….

Wassalam

ahmadiyah, on September 22, 2010 at 7:22 am said:

Kalau Ahmadiyah sesat, gak mungkin Allah meridhoi menjadi 180 negara telah terdapat perwakilannya, mudah bukan, nanti saja kalau semuanya sudah masuk kubur baru bisa dibuktikan….

Balas

zulak, on Oktober 5, 2010 at 11:48 am said:

wah kalau jumlah cabang menjadi ukuran kebenaran bakal ruyam nih …… ukuran kebenaran bukan jumlah tapi inti dari ajaran itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: