h1

“Belajar haruslah bermakna,dimana materi yang dipelajari diasimilasikan secara non-arbitrari dan berhubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki” {AUSEUL}

Mei 12, 2011

Belajar adalah sesuatu yang bermakna dan layak dilakukan bahkan wajib dikerjakan oleh semua manusia,dari bayi sampai menginjak  dewasa.Manusia mengalami perubahan,setiap perubahan terdapat fase-fase tertentu sehingga evolusi manusia dari bayi menjadi seorang anak-anak mendapatkan pelajaran yang berharga disetiap harinya,semua itu didukung oleh factor keluarga,lingkungan serta masyarakat yang disekitarnya.

Menurut Auseul,belajar adalah materi yang di pelajari diasimilasiakn secara non –arbitrari dan berhubungan denagn pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.Materi  yang dipelajari disekolah maupun diluar sekolah mempunyai kaitan khusus pada materi sebelumnya sehingga menghasilkan sesuatu yang saling berkaitan antara materi yang lampau dan materi yang akan dipelajari.Dengan cara belajar yang telah dikemukakan oleh Auseul,anak didik mempunyai hasrat yang tinngi untuk mempelajari  materi yang sudah lampau karena mempunyai rasa tanggung jawab yang tinngi guna mempelajari materi-materi yang sudah diajarkan untuk dijadikan bahan acuan bagi materi yang akan datang,akan tetapi gaya belajar atau metode seperti ini dapat menekan keinginan anak didik untuk mengeksploitasiakn materi-materi yang lain,yang tidak mempunyai kaitan apapun denagn kurikulum atau materi yang baru.

Cara belajar menurut Auseul dikembangakan oleh Jerome S Burner dalam pengembangan materi dan intelektual anak didik di dalam hal belajar,Jerome mengkategorikan materi dengan bentuk yang unik karena tujuan belajar menurut Jerome S Burner adalah apa yang dipelajari itu  berguna dikemudian hari.[1] Dengan tujuan yang sangat konkkrit dan abstrak ,manusia hannya menjadikan belajar sebagai ajang untuk memperkarya wawasan yang ada tanpa mngetahui masalah-masalah yang terdapat dalam materi itu,bagaimana mengembangkannya,dan bagaiamana cara mengevaluasi materi yang telah didapatkannya baik itu materi lampau atau evaluasi untuk mendapatkan materi yang baru.Materi atau disebut dengan istilah kurikulum disekolah mempunyai pembagian-pembagian detail menurut jenis fikirannya.Materi yang umum atau fundamental seperti sejarah,geografi dll.semakin dikuasainya materi itu semakin besar transfernya terhadap masalah-masalah yang baru.

J Burner mengatakan  bahwa setiap mata pelajaran dapat diajarkan dengan efektif dalam bentuk jujur secara intelektual kepada setiap anak dalam tahap perkembangannya dan proses belajar ada 3 episode:

1.informasi

2.transformasi

3.evaluasi[2]

Denagn ketiga tahap tersebut,anak didik mengadakan sistem belajar  dengan mengumpulkan informasi-informasi yang ada,dan telah diperoleh sebelumnya baik disekolah maupun diluar sekolah ,ssetelah informasi dikumpulkan dan diamati secara structural dan sistematis kemudian hasil informasi tersebut dievaluasi secara detail sehinnga hasil dari materi yang telah dipelajari menjadi lebih konkrit dan jelas kebenarannya,dengan adanya bukti-bukti dari hasil tranformasi disetiap informasi yang telah dikumpulakan ,anak didik yang menggemari gaya atau metode belajar ini lebih suka sesuatu yang nyata dan riil,yang mampu diaplikasikan dalam bentuk penelitian tanpa melupakan dan meninggalakan ilmu-ilmu yang bernilai abstrak.

Jerome S burner juga menerapakan system belajar recoursse based learning,Recourse based learning mempunyai gaya belajar yang lebih meluaskan kepada sumber-sumber yang ada didalam materi dan lebih bermakna,karena system based learning course mengandalkan ide kreatifitas dari anak didik dan tidak menggantungkan pengajaran dari guru maupun dosen.recourse based learning adalah suatu system belajar yang langsung menghadapkan murid kepada suatu atau sejumlah sumber belajar secara individual atau kelompok.Gaya belajar ini mempunyai criteria khusus dalam memecahkan masalah atau menerapkan materi,gaya belajar ini membutuhkan banyak sumber dan lebih mencondongkan kepada hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan linier seperti matematika,fisika,kimia dll.Laboratorium,perpustakaan,penelitian menjadi hal yang utama dan menjadi prioritas yang dibutuhkan.Belajar akan lebih bermakna karena belajar terjadi dilingkungan anak didik sendiri ,mereka lebih terjun terhadap permasalahan yang ada sehingga mendapatkan kepuasaan yang berarti dari hasil belajar.

Based learning cource [belajar berdasrkan sumber] tidak akan tercapai apabila gaya belajar ini hannya mengandalkan laboratorium dan perpustakaan akan tetapi gaya belajar ini juga membutuhkan bimbingan dari guru ,karena apapun dan dimanapun guru berperan penting dalam meningkatkan kualitas intelektual anak didik.Gaya belajar based learning course mempunyai factor-faktor tertentu dalam meningkatakan kualitas intelektual anaka didik antara lain:

1.bakat untuk mempelajari sesutau

2.mutu pengajaran

3.kesanggupan untuk memahami pengajaran

4.ketekunan

Gaya belajar based learning course menjadi salah satu pengembangan dari pernyataan Auseul.akan tetapi Carl R Rogers berpendapat lain tentang metode dan gaya belajar.Carl menerapkan gaya belajar bebas.

Menurut Carl R Rogers belajar yang telah diterapkan di berbagai sekolah di beberapa negri,dimana kurikulum dari pemerintah masih menjadi acuan untuk sebuah materi menjadikan anak didik merasa terkekang dan jenuh terhadap materi.Kebebasan anak didik untuk mengeksploitasikan bakat dan ide kreatifitas mereka terhimpit dan terhilangkan dari masa kemasa karena mereka tidak diberi waktu untuk kebebasan dalam sebuah pemikiran dan masalah,maka Carl menerepakn system belajar bebas dibeberapa sekolah atau lembaga.Belajar bebas adalah teori yang memberi kebebasan kepada murid-muridnya untuk bebas memilih sesuai tujuannya dan tanggung jawabnya.Belajar bebas menjadikan anak didik lebih leluasa dan lebih aktif dalam mengembangkan sebuah permasalahan ,disetiap permasalahan terdapat rasa ingin tahu dalam pemecahan masalahnya sehingga setiap individual mempunyai rasa tanggung jawab untuk memecahkan masalah.Belajar bebas mempunyai beberapa syarat tertentu agar guru ataupun lembaga bisa menjadikan metode ini acuan dalam proses belajar dan mengajar,antara lain:

1.ada masalah

2.kepercayaan akan kesanggupan manusia

3.keterbukaan guru

4.menghadapi murid

5.empati

6.menyediakan sumber-sumber

Dari beberapa contoh metode atau gaya belajar yang telah disebutkan merupakan salah satu bentuk penjabaran yang kognitif dari arti hakekat belajar sebenarnya yakni belajar harus bermakna dimana materi yang dipelajari diasimilasiakn secara non-arbitrari denagn pengetahuan yang sebelumnya .bagaimanapun belajar adalah salah satu hala yang mengkaitkan materi yang lampau dan sekarang,tanpa materi-materi yang lampau atau informasi-informasi yang sudah ada,belajar tidak akan menghasilkan hakekat yang bermakna,karena apabila belajar tanpa didasari oleh pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya pengetahuan baru tidak akan terwujud bahkan materi yang dipelajari akan mengalami keraguan atas kebenaran pengetahuannya {ilmu}.

Daftar pustaka:

[1] Nasution,S.Dr.Prof,Berbagai Pendekatan dalam proses Belajar dan Mengajar,Bumi Aksara,Jakarta:2006

2.Oemar,Dr.Prof,Proses Belajar Mengajar,Bumi Aksara:Jakarta.2004

OLEH:AINUR ROHMA


[1][1] Nasution,S.Dr.Prof,Berbagai Pendekatan dalam proses Belajar dan Mengajar,Bumi Aksara,Jakarta:2006

[2] [2] Nasution,S.Dr.Prof,Berbagai Pendekatan dalam proses Belajar dan Mengajar,Bumi Aksara,Jakarta:2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: