h1

LANGKAH-LANGKAH DALAM PENYUSUNAN TES

Mei 12, 2011

Urutan langkah yang dilakukan:

  1. Menentukan persiapan dan  tujuan mengadakan tes.
  2. Pemilihan materi dan  pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan.
  3. Menentukan bentuk dan jenis tes.
  4. Merumuskan tujuan instruksional khusus dari tiap bagian bahan.
  5. Menderetkan semua TIK dalam tabel persiapan yang memuat pula aspek tingkah laku terkandung dalam TIK itu. Tabel ini digunakan untuk mengadakan identifikasi terhadap tingkah laku yang dikehendaki, agar tidak terlewati.
  6. Menyusun tabel spesifikasi yang memuat pokok materi, aspek berpikir yang diukur beserta imbangan antara kedua hal tersebut. Uraian secara terinci tentang tabel spesifikasi, akan disajikan pada bab berikutnya.
  7. Menentukan jumlah butir tes dan menuliskan butir-butir soal, didasarkan atas TIK-TIK yang sudah dituliskan pada tabel TIK dan aspek tingkah laku yang dicakup.
  8. Menentukan skor.
  9. Membuat kisi-kisi.
  10. Menyusun tes berdasarkan kisi-kisi.

Apabila TIK ditulis sangat khusus, maka satu TIK diukur oleh satu butir soal. Tetapi jika TIK itu merupakan TIK esensial, maka satu TIK dapat diukur dengan lebih dari satu butir soal.

Kecenderungan yang ada pada guru-guru beberapa waktu yang lalu, pengukuran ranah kognitif hanya ditekankan pada 3 aspek yang pertama, yaitu, ingatan, pemahaman, dan aplikasi. Penyusunan item yang paling mudah dilakukan adalah pengukuran aspek ingatan. Untuk aspek-aspek lainnya, walaupun dikehendaki dan diusahakan masuk ke dalam kategori pemahaman dan aplikasi, setelah diperiksa kemungkinan besar juga masih bersifat ingatan. Itulah sebabnya dalam tulisan ini akan dikemukakan cara-cara item mengenai aspek beserta contoh-contohnya.

Komponen-komponen tes

Apabila guru sudah bekerja keras sebelum melaksanakan tes, maka pekerjaan sesudahnya akan menjadi lancar, mudah, dan hasilnya pun lebih baik.

Komponen atau kelengkapan sebuah tes terdiri dari atas:

  1. Buku tes, yakni lembaran atau buku yang memuat butir-butir soal yang harus dikerjakan oleh siswa.
  2. Lembar jawaban, yaitu lembaran yang sediakan oleh penilaian bagi testee untuk mengerjakan tes. Untuk soal bentuk pilihan ganda biasanya dibuatkan lembaran nomor dan hurf a, b, c, d, menurut banyaknya alternatif yanmg disediakan.
  3. Kunci jawaban tes berisi jawaban-jawaban yang dikehendaki. Kunci jawaban ini dapat berupa huruf-huruf yang dikehendaki atau kata/kalimat. Umtuk tes bentuk uraian yang dituliskan adalah kata-kata kunci ataupun kalimat singkat untuk memberikan ancar-ancar jawaban.

Ide daripada adanya kunci jawaban ini adalah agar:

(1)   Pemeriksaan tes dapat dilakukan oleh orang lain.

(2)   Pemeriksaanya betul,

(3)   Dilakukan dengan mudah,

(4)   Sesedikit mungkin masuknya ynsur subjektif.

  1. Pedoman penilaian

Pedoman penilaian atau pedoman skoring berisi keterangan perincian tentang skor atau angka yang diberikan kepada siswa bagi soal-soal yang telah dikerjakan.

  1. LANGKAH-LANGKAH POKOK DALAM EVALUASI HASIL BELAJAR

Para pakar dalam bidang evaluasi pendidikan merinci kegiatan evaluasi hasil belajar ke dalam enam langkah pokok.

  1. Persiapan dan Menyusun rencana evaluasi hasil belajar

Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan, Pada tahapan ini Guru atau pembuat tes melakukan kajian terhadap kurikulum bahasa Arab dan buku pedoman palakasanaan kurikulum untuk mata pelajaran bahasa arab. Apabila kurukulum yang dijadikan sanadaran kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi, maka substansi yang dikaji meliputi kompetensi dasar, indikator, hasil, topik-topik bahasan, penilaian, dan alokasi waktu yang tersedia serta harus disusun dahulu perencanaannya secara baik dan matang. Perencanaan hasil belajar itu umumnya mencakup enam kegiatan, yaitu,

(a)    Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi. Perumusan tujuan evaluasi hasil belajar itu penting sekali, sebab tanpa tujuan yang jelas maka evaluasi hasil belajar akan berjalan tanpa arah dan pada gilirannya dapat mengakibatkan evaluasi menjadi kehilangan arti dan fungsinya.

(b)   Menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi; misalnya, apakah aspek kognitif, aspek afektif ataukah aspek psikomotorik.

(c)    Memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan di dalam pelaksanaan evaluasi itu akan dilaksanakan dengan teknik tes ataukah teknik nontes. Jika teknik yang akan dipergunakan itu adalah teknik nontes, apakah pelaksanaanya dengan menggunakan pengamatan (observasi), melakukan wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire)?

(d)    Menyusun alat-alat pengukur yang akan dipergunakan dan penilaian hasil belajar peserta didik, seperti butir-butir soal tes hasil belajar (pada evaluasi hasil belajar yang menggunakan teknis tes).

(e)    Menentukan tolok ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data  hasil evaluasi.

(f)    Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajaritu sendiri (kapan dan seberapa kali evaluasi hasil belajar itu akan dilaksanakan).

  1. Menghimpun data

Dalam evaluasi hasil belajar, wujud nyata dari kegiatan menghimpun data adalah melaksanakan pengukuran, misalnya dengan menyelenggarakan tes hasil belajar (apabila evaluasi hasil belajar itu menggunakan teknik tes), atau melakukan pengamatan, wawancara atau angket dengan menggunakan instrumen-instrumen tertentu berupa rating scale, check list, interview guide atau quistionnaire (apabila evaluasi hasil belajar itu menggunakan teknis nontes).

  1. Menentukan bentuk dan jenis tes.

Tes yang disusun dapat berbentuk objektif dengan jenis pilihan ganda dan atau salah benar atau dapat pula berbetuk subjektif (esai).

  1. Melakukan verifikasi data

Data yang telah berhasil dihimpun harus disaring lebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Proses penyaringan itu dikenal dengan penelitian data atau verifikasi data. Verifikasi data dimaksudkan untuk dapat memisahkan data yang “ baik” (yaitu data yang akan dapat memperjelas gambaran yang akan diperoleh mengenai diri individu atau sekelompok individu yang sedang dievaluasi) dari data yang “ kurang baik” (yaitu data yang akan mengaburkan gambaran yang akan diperoleh apabila data itu ikut serta diolah)

  1. Mengolah dan menganalisis data

Mengolah dan menganalisis hasil evaluasi dilakukan dengan maksud untuk membri makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi. Dalam mengolah dan menganalisis data hasil evaluasi itu dapat dipergunakan teknik statistik dan teknik non statistik, tergantung kepada jenis data yang akan diolah dan dianalisis.

  1. Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan

Penafsiran atau interpretasi terhadap data hasil evaluasi belajar pada hakikatnya adalah merupakan verbalitas dari makna yang terkandung dalam data yang telah mengalami pengolahan dan penganalisisan itu. Atas dasar interpretasi data hasil evaluasi itu pada akhirnya dapat dikemukakan kesimpulan-kesimpulan tertentu. Kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi itu sudah barang tentu harus mengacu kepada tujuan dilaksanakannya evaluasi itu sendiri.

  1. Tindak lanjut hasil evaluasi

Bertitik tolak dari data hasil evaluasi yang telah disusun, diatur, diolah, dianalisis, dan disimpulkan sehingga dapat diketahui apa makna yang terkandung didalamnya maka pada akhirnya evaluator akan dapat mengambil keputusan atau merumuskan kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu sebagai tindak lanjut dari kegiatan evaluasi tersebut. Harus senantiasa diingat bahwa setiap kegiatan evaluasi menuntut adanya tindak lanjut yang konkret. Tanpa diikuti oleh tindak lanjut yang konkret maka pekerjaan evaluasi itu hanya akan sampai kepada pernyataan, yang menyatakan bahwa:”ni begini dan itu begitu”. Apabila hal seperti itu terjadi, maka kegiatan evaluasi itu sebenarnya tidak banyak membawa manfaat bagi evaluator.

  1. TEKNIK-TEKNIK EVALUASI HASIL BELAJAR DI SEKOLAH

Istilah”teknik-teknik” dapat diartikan sebagai “alat-alat”. Jadi dalam istilah “teknik-teknik evaluasi hasil belajar” terkandung dalam arti alat-alat (yang dipergunakan dalam rangka melakukan) evaluasi hasil belajar.

Dalam konteks evaluasi hasil proses pembelajaran di sekolah, dikenal adanya dua macam teknik, yaitu teknik tes dan teknik nontes. Dengan teknik tes, mka evaluasi hasil proses pembelajaran di sekolah itu dilakukan dengan jalan menguji peserta didik. Sebaliknya, dengan teknik nontes maka evaluasi dilakukan tanpa menguji peserta didik.

D. ANALISIS HASIL TES.

Setelah pensekoran tes hasil belajar telah usai bukan berarti tugas seorang guru telah usai, akan tetapi seorang guru perlu melakukan dua kegiatan, yaitu melakukan kajian terhadap tes. Kejian difokuskan pada analisis tingkat kesulitan, tingkat deskriminikasi, dan analisis reliabilitasi terhadap butir-butir tes.

  1. Analisis Tingkat Kesulitan.

Suatu tes yang baik idealnya tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Artinya, apabila suatu item dalam suatu tes dijawab benar oleh semua taste menjawab salah terhadap suatu item, maka item tersebut bukan merukan suatu item yang baik. Untuk mengetahui apakah suatu tes tersebut termasuk terlalu, mudah, sedang, dan terlalu sulit, maka dilakukan analisis tingkat kesuakaran atau kesulitan.

Menurut Djiwandono (1996), tingkat kesulitan yang dalam penghitungan diberi tanda p, dapat dinyatakan dengan presentase (%). Cara penghitungan angka tingkatan kesulitan dapat diperoleh melalui penghitungan sederhana, yaitu dengan rumus:

P =(JJB:JPT) x 100%

                                    P    = (JJBK:JPT) x 100%

                                    P    = Tingkat kesulitan hasil tes

                                    JJB = Jumlah jawaban benar

                                    JPT = Jumlah peserta tes

Apabila suatu butir tes dijawab benar oleh 7 peserta tes dari jumlah peseta sebanyak 30, maka tingkat kesulitan butir tes tersebut adalah 23%, atau 0,23. Apabila suatu butir tes dijawab benar oleh 2 peserta tes dari jumlah keseluruhan peserta sebanyak 30, maka tingkat kesulitan butir tes tersebut adalah 6,67% atau 0,67.

  1. Analisis Daya Beda.

Suatu butir tes dikatakan baik apabila ia dapat membedakan antara siswa kelompok tinggi dan kelompok rendah.untuk menentukan daya beda suatu butir tes dapat digunakan rumus berikut.

D = Ʃbenarupper-Ʃbenarlower   x100%

Ʃkelompok (upper/lower)

  1. Analisis Reliabilitasi.

Salah satu ciri tes yang baik adalah apabila tes itu reliable. Suatu tes sapat dikatakan reliable atau terpercaya apabila sebuah tes diujicobakan lebih dari satu kali kepada subjek  yang sama dapat menghasilkan skor kurang lebih sama.

 

BAB III

 

الخلاصة

مراحل الإختبار التّريس

١-ترتيب تامقالة       :

  • رمزالغرد
  • إقرارالوجه
  • إختبارالتقنية وتثبيتها
  • ترتيب الة المقياس
  • إثبات النّظية
  • إثبات التّكرّر

٢-الاءجماع

٣-التّحقّق

٤-جهاز و تحليل

٥-امناع التفسير و اخذ الخلصة

٦-اتّخاذ إجراءات

۷-تدريج الإختبار

۸-متابعة الإحتبار (الإصلاح)

DAFTAR PUSTAKA

Anas Sudijono,2009.Pengantar Evaluasi Pendidikan,Jakarta:PT Raja Grafindo

Suharsimi Arikunto,2009.Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan,Jakarta:Bumi Aksara

M. Thohir dkk, 2006. Evaluasi Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, Malang:Misykat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: